Menjelang libur Pondok dan Perjalanan Pulang

Hal yang sangat dinanti-nanti adalah pulang kamupung, momen ini adalah momen yang sangat langka bagi kami, bahkan hal ini hanya bisa dilakukan satu tahun sekali pada hariraya idhul fitri, sebenarnya ada libur sekolah, tapi setiap kali ada libur sekolah diisi dengan pondok liburan.

Kami selalu menanti-nanti hari Raya Idhul Fitri, bahkan jaraknya pun masih berbulan-bulan, tetap kami hitung, kurang berapa bulan Ramadhannya? dan selalu rajin melihat tanggalan, tak sabar rasanya untuk bisa bertemu dengan keluarga, teman dll.

Kampung halaman pun sudah mulai terbayang-bayang, kami terkadang pas waktu selesai kegiatan asrama, ngumpul jadi satu di kamar, bercerita tentang keluarga, teman rumah, suasana kampung dll, suasana itu sangat aku rindukan karna cerita mereka bisa diambil manfaatnya dan gokil membuatku ketawa.

Pembicaraan tentang apa yang akan dikemas dan dibawa pulang mulai terbayang dalam benak fikiran kami, dan ada juga dari mereka yang sudah menulis dan merancang apa saja yang akan di bawa pulng, terutama dalam hal oleh-oleh utuk keluarga di rumah terutama adikku.

Berkemas Dua Minggu Sebelum Pulang

Berkemas dua minggu sebelum pulang kebanyakan dilakukan oleh para santri baru, termasuk aku pada waktu itu, sehingga membuat para kakak senior terheran-heran melihat tingkah kami yang selalu heboh untuk berkemas jauh-jauh hari, padahal pulangnya masih lama.

Kegiatan yang selalu jadi bahan antiran sampai larut malam adalah menyetrika, jika sudah berkaitan dengan benda itu kami selalu berebut untuk menyetrika paling awal, karena kalau sudah ngantri banyak bisa-bisa sampai larut malam sekitar jam 11 malam.

Baju pun menjadi masalah ketika akan pulang, aku adalah orang yang paling betah didepan alamari ketika sudah momen seperti itu, karena aku gampang bingungan, sehingga memilih baju itu membutuhkan waktu lama, kalau sudah bingung maka aku minta pendapat temanku.

Ketika barang-barang sudah mualai dikemas ada diantara mereka dan juga aku, mencari kardus untuk wadah tambahan, karna membawa 1 tas ransel tidak cukup untuk membawa barang bawaan, sampai terheran dengan barang bawaanku sendiri.

Tak heran jika bawaan kami banyak karena ketika pulang kami mendapatkan parsel lebaran dari asrama, selain itu kami juga menambah bawaan yang banyak untuk dibawa pulang, jadi merasa kurang afdhol aja kalau gak membawa 2 kardus per anak.

Roan Akbar

Hasil gambar untuk siluet santri

Selain kami merapikan tempat tidur, dan membersihkan semua yang digunakan untuk tidur, kami melakukan roan akbar, mulai dari bersih-bersih kamarmandi, atap rumah, menata rak alquran, menbersihkan pembuangan sampah akhir, lalu dibakar.

Meski membersihkan semua isi asrama tapi tetap merasa bahagia, malah kami bekerja sambil seru-seruan karena sudah tidak sabar lagi untuk menginjakkan kaki ke desa masing-masing, selain itu kami saling bercanda membahas hal yang konyol.

Nah ketika sedang membersihkan kamar mandi dan jemuran, baju menjadi bukan baju lagi, basah kuyup dan kotor, bahkan masih sempat-sempatnya bermain prusutan karena bernostalgia waktu kecil mandi di kali, ada juga yang masuk kedalam bak dan menyiram dirinya dengan air.

Siraman Rohani dari Ustad

Hasil gambar untuk siluet santri

Ustad selalu memberikan nasehat sebelum pulang, sebagai tanda sayangnya kepada santrinya. Meskipun di rumah, harus berperilaku dan beretika sebagaimana yang sudah diterapkan di pndok, karna banyak dari para santri yang masih berlaku bebas di rumah.

Karena bau-bau rumah sudah mulai terasa, maka kebanyakan dari kami sudah tidak menghiraukan apa yang disampaikan oleh ustadnya, tapi tetap menjadi santris harus membawa almamater pondok.

Bagi para ustad dan utadzah kami adalah anaknya dan beliau adalah orangtua kami setelah orangtua kandung, maka beliau-beliau memberikan gemblengan dengan siraman rohani, karena ingin anaknya menjadi baik, meski begitu banyak dari kami yang masih nakal tikdak taat dengan peraturan.

Menjelang pulang liburan suasana menjadi lebih berbeda karena kami akan berpisah, ya walau tidak selamanya, sehingga kata maaf menjadi familiar di momen menjelang libur, terlebih terhadap ustad dan ustadzahnya pun minta maaf begitu juga sebaliknya.

Tibalah di Penghujung Penantian

Hasil gambar untuk gambar santri mudik

Images by google

Hal yang dinanti begitulama bagi kami yang masih baru, berbeda dengan mereka para senior bagi mereka itu terlalu cepat bahkan ada sebagian dari mereka yang tidak pulang dan pada akhirnya di beri amanah untuk menjaga asrama.

Wajah yang berseri-seri senyum yang begitu lebar nampak di wajah para santri, aku sendiri melihat mereka yang sudah gak siap utuk bertemu dengan keluarganya merasa senang, dan aku pribadi tidak kalah senangnya karena akan bertemu dengan 3 saudaraku terlebih orang tua.

Kami pulang tidak bersamaan ada yang lebih awal bagi mereka yang rumahnya jauh dan ada juga yang pulang lebih terakhir yang rumahnya dekat dan menjaga kantor asrama, karena setiap malam takbiran masih ada banyak yang menyumbang dengan tujuan zakat fitrah.

Pernah sekali aku merasakan pulang terakhir, ternyata pulang terakhir ada enaknya, karena masih bisa bebas untuk keluar dari asrama ketika malam hari, sebab tidak ada peraturan, waktu itu aku gunakan ntuk keluar dengan teman-teman untuk mehghilangkan rasa penasaranku dengan suasana malam di kota.

Dengan jumlah santri yang sedikit kami juga lebih bebas untuk menempati ruangan untuk tidur dan suasananya juga sepi, terkadang yang bikin bingung ketika ada donatur yang memberikan jajan atau makanan tapi gak ada anak-anak,  dan gak mungkin mubazir karena kami bagikan ke tetangga dan pndok lain.

Perjalanan Pulang Kampung

Hasil gambar untuk siluet santri

Hal yang selalu teringat-ingat sampai sekarang ketika menanti datangnya Bus jalur Ponorogo Pacitan, yang mana waktu itu sering banget nunggu dari pagi sekitar jam setengah enam sampai jam sembilan kadang juga jam sembikan lebih, baru ada Bus lewat.

Takjarang ketika libur hari raya yang hanya kurang satu hari, Bus banyak dipenuhi oleh penumpang, rasanya sampek gak bisa bernafas sangking penuhnya penumpang, serta membawa barang bawaan yang banyak dan Bus yang mulai terasa panas.

Pernah aku gak kebagian tempat duduk karean penuhnya penumpang, akhirnya aku berdiri sambil membawa tas ransel yang berat itu, sampek bahuku terasa mau putus, belum lagi sambil ngantuk yang tidak bisa dipertahankan, dan kadang juga bau rokok yang mengganggu saluran pernafasanku yang membuatku ingin muntah.

Jalan yang begitu istimewa seperti ular yang berliku-liku, membuatku semakin tertantang karna ini adalh pertama kalinya aku naik Bus padahal sebelum aku nyantri, tidak pernah keluar rumah karna aku sangat anti dengan kendaraan, mudah pusing.

Dan masih belum berhenti perjalananku sampai disini, karna selesainya naik Bus aku harus menunggu jemputan dari rumah dan beristirahat di Masjid Tegalombo, sambil mengistirahatkan kepala yang sudah tidak bersahabat lagi.

Tibalah sampai dimana suhu sudah berbeda terasa lebih dingin, dan hanya pepohonan yang dapat ditangkap oleh mata, serta jalan yang semakin sulit, selain berliku-liku jalannya naikturun, bayak menjumapi jurang. Memang rumahku jauh dari kota.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *