Masa Sekolah Putih Abu-Abu

Putih abu-abu adalah seragam sekolah yang aku gunakan 5 tahun yang lalu lebih tepatnya pada tahun 2014 di Ponorogo, selama 3 tahun masa pendidikan. Ketika itu aku masih tinggla di Yayasan Darul Muhsinin Ponorogo, masa itu aku jalani hanaya mengikuti alurnya saja. Selesai pendidikan di MTs langsung melanjitkan ke MA, masalah sekolah aku hanya mengikuti alurnya saja.

Kata orang pada masa putih abu-abu adalah masa yang paling menyenangkan, seakan dunia ini milik si putih abu-abu,  tapi yang aku rasakan biasa-biasa saja tidak ada istimewanya, entah apa karena aku yang terlalu senang mengurungkan diri, tapi memang yang aku lihat dari mereka sudah berbeda dari tingkah lakunya.

Tentang Sekolah Terhebatku

Gambar terkait

Gedung berwarna hijau bertingkat, terletak di pinggiran kota Ponorogo, yang terkenal di daerah sana adalah Mayak, tapi sebenarnya sekolahku bernama Darul Huda, yang mana itu adalah sebuah pondok Pesantren, kegiatan sekolahnya ada 2 yaitu sekolah sore MMH dan pagi.

Disana ada 2 nama santri, mukim dan laju, kalau mukim adalah santri yang tinggal di pondok dan mengikuti semua kegiatan di pondok termasuk sekolah sore atau MMH, kalau laju santri yang tidak mondok dan tidak diwajibkan mengikuti kegiatan penuh, boleh ikut MMH boleh tidak.

Yang berbeda dengan yang lain adalah Sholawat Nabi yang di lantunkan oleh santri putra dan putri MA, dan di ikuti oleh semua murid baik MA atau MTs, ketika Sholawat sudah dilantunkan semua aktifitas harus di berhentikan, semua santri berdiri dan menghadap arah kiblat.

Selain sebagai tanda sebelum memulai kegiatan belajar, lantunan ini juga sebagai peringatan bagi mereka yang suka telat datang sekolah, jika selesai Sholawatnya dan belum juga sampai kesekolah, maka dihitung telat dan mendapat secore serta dijemur di depan sekolah.

Yang paling aku senang di Darul Huda adalah bisa bertemu dan bisa menjadi anak-anak para ustad dan ustadzah yang alim,n ilmuagamanya tinggi, dan teman-teman yang sangat beretika atau punya adab terhadap para ustad dan utadzahnya, sehingga aku bisa meniru mereka dan selalu mendapat siraman rohani.

Yang dulunya aku hanya mengikuti alurnya saja, dan berusaha untuk menikmati serta menaati apa yang diperintahkan, kini aku menemukan sebuah keistimewaan tersendiri yang belum pernah aku dapatkan dimanapun, rindu rasanya dengan gedung itu dan orang yang ada didalamnya.

Tentangku di Sekolah

Hasil gambar untuk gambar sekolah darul huda mayak

Aku bukan anak pintar, bahkan tergolong anak pasif di sekolah, sampai temanku satu angkatan tidak mengenali aku sebagai teman satu angkatannya. Tidak pernah juara kelas bahkan tergolong orang yang bodoh sendiri, tidak pernah mengikuti organisasi apapun, dan hanya diam malu untuk bertanya.

Sering aku mendapat hukuman karena datang terlambat, dan akhirnya di jemur didepab sekolah sampai telat mengikuti jam pertama, telat karena di yayasan ada jadwal piket masak, terkadang dapat ceramah dari pengurus yayasan sampai sinag.

Aku heran dengan diriku sendiri karana lambat dalam masalah menangkap materi, padahal harapanku bisa maksimal dalam belajar karena sudah mengorbankan waktu untuk merantau, akhirnya aku merubah polaku, yang penting mengikuti yang di perintah dan lebih suka dengan amalan.

Menemukan Sebuah Kejanggala

Gambar terkait

Siapa sih yang tidak malu dan merasa resah jika dari sekian banyak materi hanya sebagian kecil yang bisa ketangkap, salah satunya adalah materi tentang agama.

Akumasuk di kelas X, awal masuk sudah merasakan kurang nyaman rasatakut, bagamana kalau tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, karena terauma dengan kejadian pas waktu MTs, tapi apa boleh buat, aku tetap menjalani semata-mata untuk patuh kepada orangtua.

Ketika kelas X masih belum ada penjurusan, jadi dikelas X mempelajari semua materi IPA, IPS dan Agama, belum lagi ada progam baru waktu itu, yang membuatku menemukan sebuanh kejanggalan baru, yang mana harus memilih 2 materi baru, waktu itu aku mengambil Biologi dan Kimia yang mana tidak ada yang aku sukai.

Ketika Sebuah Harapan Menjadi Nyata

Hasil gambar untuk gambar siluet keberhasilan

Kelas XI adalah waktu yang tepat untuk memilih satu jurusan, dan diberi 2 pilihan, aku memilih IAGA dan IPA,  Alhamdulillah masuk di jurusan IAGA, yang sesuai dengan harapanku, waktu itu aku merasa sedikin tenang, setidaknya dengan jurusan ini bisa merubahku terutama, dan dalam nilaiku.

Entah bisa atau tidak aku dalam belajar dijurusan IAGA (ilmu agama), yang penting bisa menuntaskan dari pelajaran yang dari dulu susah untukku mengerti, selain itu karena pelajaran agama adalah pelajaran yang lumayan mudah aku fahami meski sedikit.

Selain itu memang aku sangat suka dengan para ustadnya yang alim-alim, meski teman-teman menganggap bawah ustad yang mengajar di IAGA sangar, tapi bagiku, beliau adalah orang yang sangat hebat-hebat, ilmu agamanya tinggi.

Tantangan Baru

Hasil gambar untuk gambar penemuan kegagalan

Menghafalkan dzikrul ghofilin, membuat paper, adalah sebuah tantangan baru yang harus dikerjakan sebagai persyaratan pengambilan ijazah, aku merasa bingung bagaimana cara membuat paper yang baik, sehingga setiap dua minggu sekali aku selalu bimbingan ke ustadzah.

Berfikir itu pasti, tapi kalau hanya berfikir dan tidak berusaha dikerjakan, itu sama saja berbohong, sehingga dalam fikiranku haya satu yaitu, yang penting mekerjakan dan sering bimbingan, jika keliru dibenahi lagi sampai benar.

Selain itu jurusan IAGA menurut fersiku, jurusan yang menjurus ke akhirat, jadi tanggungannya besar. Jika sudah tau kebenaran menurut agama terus tidak diamalkan, gak tau akan seperti apa. Aku sepenuhnya belum menerapkan, bahkan cenderung lupa.

Ketika Keinginan Tidak Sesuai dengan Kenyataan

Hasil gambar untuk gambar siluet kegagalan

Setelah lulus dari MA aku berharap bisa melanjutkan ngabdi di pondok, karana ingin ngalab berkah dari kiyai sambil menyenpurnakan bacaan alquran, tapi disisi lain jika mondok tidak bisa disambi kerja, sehingga aku memutuskan untuk mengambil pilihanku yang ke dua yaitu kuliyah di IAIN Ponorogo dengan jurusan PAI.

Dari Ibu yayasan aku diajak untuk ikut kuliyah di Yatim Mandiri, sebenarnya aku kurang minat karena penempatannya di Surabaya, itu terlalu jauh bagiku. Dari temanku tidak ada yang mau, tapi akhirnya ada salah satu dari mereka yang mau untuk ikut daftar di Yatim Mandiri.

Sebenarnay sudah aku rancang mau kemana setelah lulus dari sekolah, keinginanku aku pingin mondok. Tapi adahal lain yang membuatku memutuskan keinginanku.

Dari pilihan antara kuliya di IAIN Ponorogo dan ke Yatim Mandiri. Yang ketrima lebih dulu adalah di IAIN, dengan biyaya sekitar 1.900.000 setelah pengumuman di IAIN, aku tetap mengikuti tes di Yatim Mandiri, karna sebelumnya aku sudah yakin kalu tidak ketrima di Yatim Mandiri.

Aku merasa kecewa ternyata temanku tidak bisa ikut karna pas waktu tes diya ke bandara Surabaya, akhirnya aku sendiri tes ke Madiun dengan teman-teman asing yang belumpernah kenal.

Hikmah Dibalik Permasalahan

Hasil gambar untuk gambar pohon hijau

Ketika tes lisan aku diberi nasehat-nasehat yang menjawab semua permasalahanku selama ini, dan yang awalnya aku hanya 25% yakin untuk kuliah di Yatim Mandiri menjadi 90%, meskipun aku tidak yakin bahwa aku biasa disitu, karna ketika tes Matematika aku di ajari temanku.

Setelah beberapa minggu pengumuman aku ketrima di Yatim Mandiri dengan jurusan Kuliner, yang sebenarnya bukan pilihanku, karena yang aku pilih waktu itu dikhususkan untuk ihwan, dan aku direkomendasikan untuk masuk jurusan masak.

Dan akhirnya aku memilih untuk masuk di MEC Surabaya, karna berbagai pertimbangan. Meski begiti aku masih takut untuk keluar kota, jelas saja aku orang yang gak pernah keluar. Sekali keluar langsung jauh tanpa ada teman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *