Pengalaman pertama menjadi santri

Selesainya pendidikan di MI Pacitan, aku langsung melanjutkan pendidikan di Yayasan Darul Muhsinin Ponorogo tepatnya di JL A Yani NO 132 A, disini pertama kalinya aku mulai belajar untuk tidak bergantung kepada orang tua dan menghargai perjuang orangtua, serta merasakan begitu berartinya keluarga bagi hidupku.

Disana sekolahnya berbeda-beda ada yang sekolah di Mualimat dan ada yang sekolah di Pndok Darul Huda, aku dimasukkan sekolah di Darul Huda, akupun merasa senang jika di masukkan sekolah di sana, karna pada dasarnya aku ingi sekali untuk mondok.

 Jarak yang harus di tempuh untuk menuntut ilmu, dari yayasan ke sekolah sekitar 20 menitan dengan menggunakan sepeda pancal, karna aku belumbisa naik sepedah aku diajari mbak-mbak yang ada di yayasan setiap hari jum’at, jatuh bangun itu sudah biasa aku rasakan, karna aku tidak ingin terus menerus merepotkan mereka.

Hal yang paling aneh tapi unik menurutku, selama aku sekolah tak jarang aku jatuh dari sepedah, pasti setiap tahunnya aku terjatuh dari sepedah entah pas waktu pulang sekolah ataupun berangkat sekolah, sehingga bannyak tembelan berganbar di sragamku.

Asiknya disana kita melakukan kegiatan bersama, bahkan dalam urusan mencuci pakaian, makan dan mengaji, karna di pesantren yang lebih diutamakan adalah al-quran, maka disana sangat di perhatikan al-qurannya sehingga muncul para penghafal al-quran, selain juz 30 dan surat-surat penting.

Kenangan Pulang ORSPON (Orentasi Perkenalan Pondok Pesantren)

Gambar terkait

Dimana waktu itu aku masih belumpunya teman, dan belumbisa naik sepeda berangkat sekolah pun diantar olehteman asramaku dengan menggunakan sepeda, sehingga selama 5 hari aku diantar olehnya, hal itu membuatku tidak enak karna merasa merepotkannya.

Ketika ORSPON berahir kira-kira jam 11 siang, aku belum di jemput sehingga aku harus menunggunya, sampai pada akhirnya semua para santri pulang, dan yang mondok sudah kembali ke asrama masing-masing, akhirnya aku memutuskan untuk pulang sendiri, karna sudah semakin sore.

 Arah jalan yang masih asing dan sulit untukku ingat, membuatku semakin takut, dan pada akhirnya aku menangis sambil menelusuri jalan raya di kota Ponorogo, karna ini pertama kalinya aku berada dikotabesar yang indah dan bagus menurutku pada waktu itu.

Di pertigaan aku duduk di pinggir jalan karna sudah mulai lelah, dan bingung harus lewat yang mana, sambil menangis aku di hampiri oleh bapak penjual es cao, ditanya-tanya tentang alamat tempat tinggalku, akhirnya beliau tanya alamtku kepada temannya, dan Alhamdulillah beliau tau alamat tersebut.

Kuucapkan trimakasih tiada tara kepada Allah karna sudah memberikan kemudahhan untuk pulang melalui bapak penjual es cao tersebut, akupun merasa senang dan berterimakasih kepada beliau karna sudah menolongku, saat itu memang aku benar-benar takut jika gak bias pulang

Pada akhirnya aku di hentikan Bus dan di titipkan kepada sopirnya untuk diantarkan kealamatku di yayasan,disitu aku tidak ditarik biaya, malah dikasih uang dan buah oleh penumpangnya, sehingga membuatku malu dan sungkan.

Pahit Manis di Pesantren

Gambar terkait

Di pesantrenku sama halnya di Yayasan atau Lembaga Anak Yatim, Piatu dan Duafa’, dimana di sana semua kebutuhan sudah dijamin mulai dari sabun untuk mandi dan mencuci baju, pasta gigi, odol, makan bahkan sampek biaya sekolah, semua gratis di tanggung oleh pesantren.

Dan yang lebih menyenangkan lagi di setiap libur semester, diisi dengan kegiatan kegiatan yang menarik dan banyak manfaatnya, seprti mendatangkan para motifatator hebat, membuat kerajinan dari bahan yang sudah tidak terpakai menjadi sebuah karya atau benda yang menarik.

Masak adalah kegiatan yang setiap hari dilakuan, karna ada jadwal piketnya hehe, tapi ketika ada libur semester ada sekolah masak tersendiri, di ajari berbagai macam pembuatan kue, dan ada sup matahari dll, yang ku ingat hanya sup matahari selain enak namanya juga aneh ditelingaku.

Tak jarang aku pulang ke kampung halamanku, karna setiap kali ada libur semester sekolah, diisi dengan pondok liburan, sehingga tidak ada waktu untuk pulang, setahun itu bisa di hitung pulangnya selain hari raya idhul fitri kira-kira 6 hari, lalau pas libur hariraya haya satuminggu libur.

Penjara suci, dimana banyak peraturan yang harus ditaati, pasalnya jika tidak mematuhi maka akan kena hukuman, akan tetapi hukuman-hukuman itu bertujian agar para santri menjadi lebih baik, sebab apa yang dilarang adalah yang baik untuk para santri, meski begitu masih banyak dari para santri yang melanggar sehingga mendapat hukuman.

Indahnya Puasa dan Hari Raya di Pesantren

 

Puasa adalah hal yang paling menyenangkan di pesantren, karna dapat memberikan keringannan yaitu tidak masak hehehe, karna selama puasa sudah ada jadwal dari para donator untuk memberikan makan untuk sahur dan buka.

Ketika bulan puasa, banyak dari orang-orang yang ingin shodakoh, memperbanyak pahala, Salah satunya adalah berbagi memberi makn orang yang berbuka, serta memberikan sangu atau santunan, disitulah kami mendapat rizki yang berlimpah dari Allah “Alhamdulillah”.

Bulan pasa itu kami sebut bulan milik kita, yang mana di bulan puasa kami para santri dapat uang banyak, makan dan minum yang enak, akan tetapi kami juga memiliki tabungan, sehingga uang itu sebagian besar ditabung, dan yang tak kalah menarik adalah kami berlomba-lomba mengkhatamkan alquran selama ramadhan.

Dan yang paling mengasikan lagi ketika H+5, kami sudah kembali ke pesantren dan bersilaturrohim ke rumah para pengurus dan tetangga pesantren, dengan menggunakan bus mini, dan keramaian pun mulai muncul didalamnya dengan keseruan dari teman-teman, selain itu kami juga dapat uang saku dari beliau.

Apalagi pas waktu hariraya idhul adha kami tidak di perbolehkan untuk pulang jadi di sana ada kegiatan tersendiri, yang tidak kalah asiknya yaitu khataman alquran, dan takbiran menggunaka banjari, sampai tengah malam, dan berakat bersama kemasjid untuk menjalankan sholat, serta melihat penyembelihan hewan kurban.

Mengais Berkah dari Sang Guru

Gambar terkait

Niat yang baik akan menimbulkan sesuatu yang baik, waktu, tenaga, fikiran sudah terkuras di pesantren, sehingga sangat di sayingkan jika di dalam penjara itu hanya bermaim-main, dan tidak patuh kepada para guru, karna sesungguhnya keberkahan ada pada ketaatan kita terhada guru kita.

Etika kepada guru itu juga sangat di anjurkan di pesantren, selain adab terhadap ilmu, sehingga jika ada guru yang datang atau lewat kita para santri harus menunduk dan berlaku sopan, jika dengan ilmu maka buku dipegang ditangan kanan dan tidak ditaruh di sembarang tempat, terlebih di taruh dibawa

Menaati apa yang di perintah guru, missal, di pesantren dianjurkan semua menghafa, ada yang hafal juz 30 dan surat ada yang hafalan 30 juz, sehingga setiap kali pulang sekolah  harus menyiapkan hafalan setengah halaman bagi yang menghafal 30 juz, sehingga yang lain tidur mereka harus begadang untuk menghafal.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *