Gambar anjing, kertas, rumput, kursi, balon udara, gelas, burung terbang, lampu, orang pakek payung yang termasuk dari paribahasa jawa

101+ Kumpulan Peribahasa Jawa (Nasehat) | Wajib Kamu Tahu!

Peribahasa Jawa – Peribahasa Jawa ini memiliki banyak nama, saya mau menulis artikel ini juga bingung, karena ada banyak referensi dengan nama yang berbeda-beda. Setelah dilihat-lihat, peribahasa itu mungkin sama halnya dengan paribasan Jawa, pepatah Jawa, kata-kata Jawa dan pitutur Jawa. Mungkin masih ada banyak lagi, “Lalu apa sih pengertian dari peribahasa Jawa itu?”.

Jadi perlu digaris bawahi bahwa, antara paribasan, peribahasa, pepatah Jawa setelah ditelusuri isinya sama. Maka kalian, jika mencari referensi tentang paribasan atau peribahasa dan pepatah Jawa, jangan bingung lagi, karena semuanya sama.

Dalam penulisan yang benar adalah peribahasa dan semua peribahasa Jawa disini termasuk dari peribahasa Jawa kuno.

Simak contoh kumpulan peribahasa Jawa dibawah ini, yang penulis sajikan dengan lengkap dan jelas. Semoga dapat dipahami oleh kalian.

Pengertian Peribahasa Bahasa Jawa

Peribahasa Jawa adalah suatu bentuk gaya bahasa yang digunakan oleh orang Jawa guna memberi nasehat, sindiran, bahkan teguran terhadap orang lain.

Bentuk dari pepatah atau peribahasa Jawa berupa kelompok kata yang padat, singkat, mudah dipahami, dan mudah dihafalkan namun berisi berbagai norma yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup.

Dalam masyarakat Jawa dahulu, peribahasa Jawa diturunkan dari generasi kegenerasi secara lisan (gethok tular). Kemudian gaya bahasa penyampaiannya secara lugas, perbandingan, dan ada yang menggunakan perumpamaan. Meski begitu isinya tetap mudah disaring oleh orang yang dinasehati.

Berikut beberapa contoh paribasan bahasa Jawa, kumpulan paribasan Jawa, contoh paribasan Jawa dan arti maknanya lengkap.

Baca juga: Kata kata lucu bahasa jawa.

Kumpulan Peribahasa Jawa Lengkap Arti dan Maknanya

Gambar buku, kacamata, warna coklat, diatas meja
By: Pixabay.com

Paribasan Jawa 1 – 6

Ngunduh wohing pakerti
Artinya: Memetik buah perbuatannya sendiri

Maknanya: Paribasan Jawa ini bisa di ibaratkan petani yang sedang menanam padi maka jika sudah saatnya pasti akan menuai padi, bukan jagung dll. Hal tersebut merupakan kiasan, jika orang yang melakukan keburukan maka akan memperoleh keburukan, begitu juga sebaliknya.

Anak polah, bapak kepradhah
Artinya: Anak meminta, bapak menurutinya

Maknanya: Peribahasa Jawa diatas, sebagai peringatan kepada para orang tua supaya lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya. Jadi sebagai orang tua harus mempertimbangkan dengan baik apa yang diminta anaknya. Mengenai baik, burung dan manfaatnya, supaya tidak menimbulkan permasalahan dalam sebuah keluarga.

Nabok nyilih tangan
Artinya: Memukul meminjam tangan orang lain

Maknanya: Jadi makna yang terkandung dalam kalimat diatas adalah, sebuah kiasan kepada orang licik tidak berani menghadapi lawannya dengan terbuka. Dia malah meminta tolong kepada orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi.

Kayata suruh murep lumahe bedha, nanging yen dineget padha rasane.
Artinya: Seperti halnya daun sirih warna bawah dan atasnya berbeda, namun jika digigit sama rasanya.

Maknanya: Makna diatas dapat diumpamakan seperti, penjajah Jepang dan belanda. Meskipun yang lain dari Asia dan sebagian dari Eropa. tujuan mereka datang ke Indonesia sama untuk menjajah.

Ana dina ana upa. Ora obah ora mamah
Artinya: Ada hari ada nasi. Tidak mau bergerak tidak mendapatkan makanan

Maknanya: Peribahasa yang pertama artinya selama seseorang mau bekerja dengan giat dan tekun pasti mendapatkan riziqi (sesuap nasi). Peribahasa yang kedua merupakan semboyan bagi anak-anak muda kecil maupun besar, dalam menyemangati dirinya untuk semangat bekerja.

Kaya pasar ilang kumandhange. Kaya kali ilang kedhunge
Artinya: Seperti pasar kehilangan gema. Seperti sungai kehilangan lubuk.

Maknanya: Peribahasa diatas menggambarkan, kondisi dan situasi pada zaman dimana tradisionalisme dan adat kebiasaan mulai terkikis. Berganti dengan nilai baru yang belum terlalu dipahami oleh masyarakat.

Baca juga: Ucapan ulang tahun Bahasa Jawa.

Paribasan Jawa 6 – 12

Kebo gupak ajak-ajak
Artinya: Kerbau yang penuh lumpur mengajak  kotor kepada yang bersentuhan dengannya

Maknanya: Peribahasa diatas, merupakan peringatan bagi orang yang mempunyai perbuatan buruk (kotor) pasti atau cenderung mengajak kepada keburukan (perbuatannya). Untuk itu, jauhilah orang yang melakukan keburukan dan jangan berdekatan dengannya.

Hal ini juga ada dalam kitab alala yang bunyi artinya (Yen ono konco bagus lakune dang konconono # Yen ono konco olo lakune dang dohono).

Withing teresno jalaran songko kulina
Artinya: Pertama cinta itu penyebabnya karena terbiasa

Maknanya: Peribahasa diatas sebagai peringatan bagi perempuan maupun laki-laki, supaya dalam berteman tidak boleh terlalu dekat, karena akan menimbulkan rasa cinta.

Kekudhung wewulang macan
Artinya: Berjilbab berkulit harimau

Maknanya: Peribahasa diatas merupakan gambaran bagi orang yang berusaha mencapai keinginannya dengan menggunakan pengaruh dari orang yang ditakuti oleh masyarakat (penguasa).

Emban cindhe, emban siladan
Artinya: Menggendong dengan rautan bambu, dan menggendong dengan selendang.

Maknanya: Paribasan yang mengandung nasihat untuk para orang tua (para penguasa). supaya tidak pilih kasih kepada anak, bawahan atau rakyatnya. Yang disenangi jangan langsung diberi kemudahan, dan yang tidak disukai terus-menerus dipersulit hidupnya (disakiti).

Becik ketitik, olo ketoro
Artinya: Baik akan terbukti, dan buruk akan kelihatan dengan sendirinya.

Maknanya: Peribahasa ini, sebagai peringatan bahwasanya orang yang berbuat baik meskipun tidak kelihatan, suatu saat akan dihargai. Namun jika berbuat buruk maka, se pandai apapun untuk menyimpannya pasti akan ketahuan.

Anjuran untuk selalu berbuat baik.

Kegedhen empyak kurang cagak
Artinya: Kebesaran atap kurang tinggi.

Maknanya: Peribahasa diatas, gambaran bagi orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya. Dengan digambarkan dengan atap yang terlalu tinggi, dengan tiang yang sedikit, maka akan menimbulkan masalah baru atau roboh. Sehingga rumah (cita-cita) tidak dapat terwujud. Kalaupun terwujud kontruksinya akan roboh.

Paribasan Jawa 12 – 18

Tuna satak bathi sanak
Artinya: Rugi sedikit tidak apa-apa, yang penting banyak saudara

Maknanya: Peribahasa Jawa diatas bermakna, seorang pedagang yang tidak mementingkan laba, karena laba bukanlah segala-galanya, akan mengurangi laba yang didapat. Sehingga para pembeli senang karena harganya lebih murah dari pada yang lain, sehingga akan mendatangkan banyak pengunjung.

Ngono yo ngono, nanging ojo ngono
Artinya: Begitu ya begitu, tapi ya jangan gitu.

Maknanya: Kalimat diatas merupakan peringatan, supaya orang tidak berbuat berlebihan yang dapat menimbulkan masalah baru yang dapat mengganggu orang lain. Misalnya: Kita boleh saja menagih hutang kepada orang lain, namun jangan didepan umum karena dapat membuat orang lain malu.

Kesandhung ing rata, kebenthis ing tawang.
Artinya: Tersandung ke tempat yang rata, terbentur ke langit.

Maknanya: Merupakan peribahasa Jawa yang terkait dengan kejadian yang jarang terjadi atau mustahil terjadi. Jadi paribasan diatas merupakan peringatan supaya orang waspada dan berhati-hati dalam berbuat sesuatu.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Artinya: Menghalangi diberantas, melihat di tebas.

Maknanya: Pada kalimat diatas mengandung makna, sebagai semboyan untuk menghapus kezaliman, yang dapat mencengkram masyarakat. Maka apapun yang terjadi harus dilawan karena diluar batas perikemanusiaan.

Sanyari bumi, sakdhumk bathuk, ditohi pati
Artinya: Merebut sejengkal tanah, menyentuh dahi sang istri, dilawan sampai mati.

Maknanya: Peribahasa Jawa tersebut, menggambarkan sikap seorang laki-laki Jawa yang mempertahankan seorang wanita (istri) dan tanah kelahirannya, sebagai warga negara. Sehingga kepemilikan perempuan, dan tanah (bumi) dipertaruhkan dengan darah.

Sakdawa dawane lurung, ijik dawa gurung.
Artinya: Sepanjang panjangnya lorong, masih panjang kerongkongan.

Maknanya: maknanya adalah manusia itu suka menebar-nebarkan informasi, dari mulut ke mulut. Sehingga dalam waktu nya singkat dapat menyebar ke berbagai kalangan.

Paribasan Jawa 18 – 24

Dudu sanak lan dudu kadang, nek mati melu kelangan.
Artinya: Bukan saudara dan bukan kerabat, jika mati ikut kehilangan.

Maknanya: Peribahasa diatas di ungkapkan kepada seseorang yang sangat berjasa dan besar menurut pandangan masyarakat, sehingga jika yang bersangkutan mati, maka semua orang akan merasa kehilangan.

Sak begja-begjane wong lali, ijik luwih begja wong eling
Artinya: Seberuntung-beruntungnya orang lupa, masih beruntung orang yang ingat.
Cegah dahar lawan guling.
Artinya: Mengurangi makan dan mengurangi tidur.

Maknanya: Maknanya dalam berpuasa itu tidak hanya menahan makan, namun menahan hawa nafsu yang melengkapi kehidupan kita, supaya cita-cita dapat terkabulkan dan kehidupan menjadi lebih baik.

Janma tan kena ing ina
Artinya: Manusia jangan dihina

Maknanya: Peribahasa diatas mengandung makna, orang itu antara hati atau isi dan penampilan bisa saja berbeda. Mungkin kita akan keliru jika melihat dari penampilannya saja, karena banyak orang yang suka menyembunyikan kemampuannya, yang jauh berbeda dari yang nampak.

Utha-uthu nggoleki salahe guru
Artinya: Kesana-kesini hanya mencari celah sawah yang dibajak.

Maknanya: Orang yang tidak malu dan berjuang semangat untuk mencari nafkah, melalui pekerjaan apapun yang ada di sekitarnya.

Alon alon sing penting kelakon.
Artinya: Pelan pelang yang penting tercapai.

Maknanya: Peribahasa Jawa diatas merupakan semboyanya orang Jawa, bahwa segala sesuatu itu yang terpenting adalah tercapainya suatu tujuan, meskipun waktunya lama.

Paribasan Jawa 24 – 30

Durung gedhe yaen durung wani cilik. Durung unggul yen durung wani asor. Durung menang yen durung wani kalah.
Artinya: Belum besar jika belum berni kecil. Belum unggul jika belum berani rendah. Belum menang jika belum berani kalah.

Maknanya: Peribahasa diatas merupakan peribahasa kata kata mutiara yang termasuk dari ajaran R.M Sosrokartono (Kaka R.A Kartini). Kata kata tersebut yang sering digunakan orang Jawa dalam kehidupan bain.

Mburu uceng, kelangan deleng.
Artinya: Mengejar ikan kecil, kehilangan tongkat (digunakan untuk menyebrang sungai).

Maknanya: Peribahasa mengenai usaha yang memperoleh hasil kecil dengan mengabaikan usaha lain yang sudah dijalankan, akhirnya akan menjadi rusak.

Ngelmu kuwi kelakone kanti laku.
Artinya: Makna peribahasa diatas adalah, ilmu itu cara mendapatkannya melalui proses, lahir maupun batin.

Maknanya: makna peribahasa diatas, menurut orang Jawa ilmu itu merupakan perilaku. Jadi, dalam menyerap ilmu memerlukan indra batin dan penghayatan pribadi, bukan hanya aktivitas pikiran dan otak saja.

Aja nggege mangsa.
Artinya: jangan mempercepat atau mendahului musim.

maknanya: makna kata diatas merupakan, berhasilnya suatu cita-cita membutuhkan waktu tersendiri, dan datangnya tercapai keinginan itu, pada waktu yang tepat.

Jiak terjadi kegagalan dalam meraih cita-cita, itu karena melanggar kehendak alam yang sudah digariskan oleh (Tuhan yang Maha Esa).

Kelangan nora gethun, rila namun ketaman.
Artinya: Kehilangan Rela ketika menderita (tertimpa musibah), kehilangan tidak menyesal.

Maknanya: Merupakan paribasan gambaran dari sikap kuat dalam menghadapi kehidupan. Semua sikap dan perbuatan dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh, termasuk sikap yang tidak mengenakan. Sehingga mudah bangkit serta memikirkan hal positif, dari pada menyesali apa yang sudah terjadi.

Sinau maos mawi raos, sinau moco mawi kaca.
Artinya: Belajar membaca dengan rasa, belajar membaca dengan cermin.

Maknanya: makna dari peribahasa Jawa diatas merupakan ajaran R.M Susrokartono, yakni hati berfungsi sebagai cerminan untuk memantulkan perasaan orang lain. Belajar membaca dengan rasa digunakan untuk menemukan makna kehidupan yang lebih luas.

Paribasan Jawa 30 – 36

Yen wani ojo wedi, yen wedi aja kumawi.
Artinya: Kalau berani jangan takut, kalau takut jangan sok berani.

Maknanya: Paribasan diatas merupakan peringatan supaya jika bertindak jangan setengah-setengah. Jadi, orang itu harus berani dan dapat mengukur kemampuan dirinya sebelum melakukan suatu tindakan.

Warangka manjing curing, curing manjing warangka.
Artinya: Sarung menyatu dengan kerisnya, Keris menyatu dengan sarungnya.

Maknanya: Makna peribahasa Jawa diatas merupakan gambaran cita-cita ideal hubungan pemimpin dengan rakyat di Jawa. Yang mana, rakyat bersedia mengabdikan diri kepada rakyat, dan pemimpin memahami aspirasi rakyat serta mau menyantuni rakyat dengan baik.

Celak coloking Hyang Widi, momor paworing sawujud
Artinya: Dekat dengan cahaya ilahi dan menyatu dengan kesat mata.

Maknanya: Makna kata diatas adalah tujuan hidup orang Jawa itu mendekatkan diri kepada cahaya ilahi dan menyatu dengan orang banyak.

Ala becik, bener luput, begja cilaka, mung sangking badan priyangga.
Artinya: baik buruk, benar salah, untuk celaka, berasal dari badan sendiri.

maknanya: Makna peribahasa jawa diatas merupakan inti dari ajaran Kejawen, yang merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa, yang mengungkapkan bahwa apa yang didapat seseorang adalah hasil dari perbuatannya sendiri, bukan karena akibat orang lain.

Aja rumangso bisa, nanging biso rumongso.
Artinya: jangan merasa bisa, namun biyasalah merasa (menggunakan perasaan).

maknanya: Makna kata diatas merupakan, sikap merasa biasa itu tidak baik karena dinilai manifestasi kesombongan, serta hasilnya tidak sesuai dengan yang dikatakan. Sedangkan jika bisa menggunakan perasaan merupakan sifat yang baik, karena menjadi landasan sikap tanggung rasa antar sesama.

Aja ngomong waton, nanging ngomonga nganggo waton.
Artinya: jangan berbicara asal bicara, namun berbicaralah dengan menggunakan landasan yang baik.

maknanya: Makna peribahasa Jawa diatas merupakan nasehat supaya dalam berbicara menggunakan tata karma dengan baik. Serta harus jelas cara penyampaiannya dan harus jelas apa yang akan disampaikan. Agar tidak terjadi salah faham terhadap lawan bicara.

Paribasan Jawa 36 – 41

Jer basuki mawa beya.
Artinya: untuk bahagia membutuhkan biaya.

Maknanya: makna butuh biaya disini, jika ingin mencapai suatu keinginan, harus bekerja keras dan berusaha. Karena tidak mungkin juga orang yang mencapai impiannya dengan mudah, pasti membutuhkan perjuangan.

Golek geni adedamar, golek banyu apikulan warih.
Artinya: Mencari api berbekal pelita, berbekal air sepikul air.

Maknanya: makna peribahasa Jawa diatas menjelaskan bahwa orang yang melakukan perbuatan buruk maka akan dibalas dengan keburukan. Orang yang berbuat kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, serta dalam berbuat kebaikan terlebih dahulu berbuat kebaikan.

Durung punjul keselek jujul, durng pecus keselek keselak besus.
Artinya: Belum menguasai keahlian keburu ingin tampak berlebih, belum berilmu ingin langsung pintar.

Maknanya: Makna peribahasa Jawa diatas merupakan sindiran kepada orang yang ngin kelihatan lebih unggul ilmu dan keterampilanya, padahal belum tentu menguasai ilmu dan keterampilan tersebut.

Angkara gung ing angga anggung gumulung
Artinya: Angkara murka di dalam badan pasti menggelora.

Maknanya: kata diatas menggambarkan bahwa nafsu manusia setiap saat bisa bergolak serta tidak terbendung lagi, untuk itu dibutuhkan cara dan kewaspadaan yang tepat untuk mengendalikan nafsu.

Ewuh aya ing pambudi.
Artinya: Susah menentukan sikap serta bertindak.

Maknanya: Makna peribahasa Jawa diatas diumpamakan dengan, jika ada seorang polisi yang sedang bertugas dijalan, kemudian menangkap seorang pelanggar dan ternyata itu adalah adiknya sendiri. Maka sebagai saudara dan penegak hukum dia akan kesulitan dalam bertindak menangani kasus tersebut.

kumpulan Paribasan bahasa Jawa Kuno

Gambar buku, kertas, jam meja, jam, alat lab, lampu hias dalam kaca, termasuk dari paribahasa jawa
By: Pixaby.com
  • Diobong ora kobong, diguyang ora teles : Makna peribahasa Jawa tersebut adalah meskipun disakiti, dihina, ditekan, disiya-siakan namun tetap sukses.
  • Setan ora doyan, dhemit ora doyan : Maknanya adalah terlepas dari mara mara bahaya.
  • Endhek wiwitane, dhuwur wekasane : Yang semula sederhana, akhirnya mulia.
  • Diwenehi ati ngrogoh rempelo Makna paribasan Jawa kuno ini adalah, orang yang tidak mau bersyukur atas pemberian yang baik, dan inginnya lebih banyak.
  • Dumadining awakmu kuwi lantaran anane bapak biyung iraParibasan Jawa kuno tersebut mengandung makna, terjadinya dirimu atau kita itu melalui adanya ibu-bapakmu.
  • Eshuk dele sore tempe Maknanya adalah orang yang gampang tertawa serta tidak punya pendirian.
  • Jalukan nanging ora weweweh Paribasan jawa kuno ini artinya, orang yang suka meminta tetapi tidak pernah memberi.
  • Mikul dhuwur mendem jeru Makna peribahasa Jawa kuno tersebut adalah, kita senantiasa menjujung tinggi kebaikan orang tua serta merahasiakan segala kejelekanya.
  • Nuthuti layangan pedhot Maknanya adalah berusaha mengembalikan keadaan yang rapuh.
  • Nyolong pithek Makna peribahasa Jawa tersebut adalah orang yang salah dalam memperkirakan.

Peribahasa Jawa (Bebasan Saloka)

Gambar buku, dau, di atas kayu, kayu bagus, buku kamus, bahasa inggris
By: Pixabay.com
https://mudahdicari.com/wp-admin/options-general.php?page=ad-inserter.php#tab-2

Peribahasa Jawa itu dapat dibagi menjadi 2 yaitu bebasan dan salika, berikut penjelasan bebasan dan saloka yang dapat disampaikan penulis dengan lengkap dan jelas.

Bebasan

Bebasan yaiku sing badhe panggonane lan nggadahi teges entar, ngemu surasa nggambarake tindak tandhuke manungsa (Sebuah rangkaian kata tidak mengandung makna pengandaian, tetap penggunaannya dan bermakna konotativ).

Contoh / tulodho:

  • Ngubek-ngubek banyu bening: Membuat kerusuhan ditempat yang sudah tentram
  • Kerot ora nduwe untu
  • Urip iku urup (hidup itu nyala) makna dari bebasan diatas adalah hidup itu harus bisa memberikan sinar (cahaya) kebaikan bagi sesama.
  • Nuthuti kidang lumayu (mengejar kijang yang lari)  makna peribahasa jawa tersebut merupakan, mengejar sesuatu yang mustahil untuk diraih.
  • Ngenteni endhog si blorok (menunggu telur si ayam/blorok) makna bebasan diatas adalah menunggu suatu hal yang tidak pasti.
  • Nguthik utik macan turu (mengganggu harimau tidur) maknanya adalah orang yang suka mencari masalah.
  • Anchik-ancik pucuking eri (menginjak/berdiri diatas ujungnya duri) makna bebasan tersebut merupakan, peringatan jika terjadi bahaya atau ancaman.
  • Ghondelan ponchote tapeh (jarik) (berpegangan dengan ujung jarik/rok istri) arti bebasan tersebut adalah hidup selalu bergantung terhadap istri.
  • Adhang adhang tetes embun (berharap etes embun) arti bebasan tersebut adalah berharap anugerah Tuhan.

Saloka

Saloka yaiku sebuah rangkaian kata yang penggunaannya tetap, mengandung makna pengandaian, bermakna konotatif. Yang diandaikan manusia / orang, dan pengandaiannya adalah binatang.

Contoh / tulodho:

  • Tengu ngadu gajah artinya orang kecil mengadu orang besar
  • Belo melu seton
  • Kemladean ajak sempal artinya saudara mengajak kerusakan
  • Kebo nusu gudel (Kerbau menyusu dengan anaknya) jadi maksudnya adalah orang yang sudah tua meminta diajari dengan yang muda.
  • Cecak ngunthul cagak (Cicak memakan tiang) maknanya adalah cita-cita yang tidak mungkin didapat karena tidak sinkron dengan kekuatannya.
  • Kakehan gluduk kirang jawah (Kebanyakan petir namun kurang hujan) maknanya adalah terlalu banyak ngomong tapi tidak ada buktinya.
  • Asu rebutan balung (anjing berebut tulang) makna peribahasa saloka tersebut adalah berdebat dengan hal yang sepele namun tidak ada yang mau mengalah.
  • Baladewa ilang gapite (baladewa wayang kulit kehilangan pengamanya) maksud dari peribasan saloka diatas yaitu segala kegagahan, kegalakan, kegarangan, hilang dan tidak berarti lagi.
  • Mburu uceng kelangan deleg (mengejar ikan kecil kehilangan ikan besar) makna peribahasa saloka diatas adalah jika kita mengejar barang yang sedikit, malah kehilangan barang yang banyak.

Contoh Peribahasa Bahasa Jawa yang Lain

Gambar buku cerita, buku bacaan, buku cerit, dan buku motivasi, gambar gelas, secangkir kopi/teh, lepek, tutup gelas, bunga, pot, bunga untuk meja, warna putih, warna emas.
By: Pixabay.com

Contoh Peribahasa Jawa 1 – 7

  • Biyung-biyung tawon kambu uceng

 Tiyang ingkang tumut makempal, nanging mboten sumerep ing rembang namung kelu ing pawertos, mbaten sumerep yektosipun.

⇒ Arti peribahasa Jawa orang yang ikut kumpul namun tidak tahu apa yang sebetulnya diomongkan.

  • Busuk ketekuk, phinter keblinger

⇒ Sing bodho, sing pinter sami nemu ciloko.

  • Buntel kadut, mboten kinang mboten udut

⇒ Tiang nyabut damel borongan, mboteng angsal opah duwit, mangan, serto udut.

  • Bubuk oleh eleng

⇒ Duwe niyat awon oleh margi.

⇒ Maknanya paribasan Jawa tersebut adalah orang yang memiliki niat jahat, mendapatkan jalan untuk melancarkannya.

  • Bumi pinandhem

Andhap asor banget.

Makna kalimat peribahasa Jawa tersebut adalah kita hendaknya bersikap sosial.

  • Bhudung mumuk

Wong doyan mangan, doyan turu.

Makna paribasan jawa tersebut adalah orang yang aktivitasnya kebanyakan makan dan tidur.

  • Blilu tau pinter durung nglakoni

Senajan durung ngerti nanging wus iso nindakaken.

Makna peribahasa Jawa tersebut adalah orang yang bisa melakukan suatu hal walaupun belum pernah belajar atau mengerti.

Contoh Peribahasa Jawa 8 – 15

  • Biso njara langit

Pinter banget

Sangat pintar

  • Bindhung apirowang

Niyate ngancani, pungkasane nyusahake sing diewangi.

Niatnya mau membantu, namun malah menyusahkan yang membantu.

  • Binda upaya

Upaya shing licik.

Makna bebasan Jawa tersebut adalah berusaha untuk memenangkan persaingan dengan cara yang licik.

  • Benceng ceweng

⇒ Bingung: Wongkang awale raket nanging rikolo nemu perkorone tansyah suloyo ing penemu lan ira iso nyawiji maneh.

⇒ Makna paribahasa Jawa tersebut adalah dua orang tau lebih yang mempunyai pemikiran yang sama awalnya, namun ketika sudah menghadapi suatu masalah, sikapnya berlawanan serta tidak bisa disatukan.

  • Bebisik nguwuh uwuh

Wewadi seng kesimpen rapet kabukak, nalika kabukak ning uwong.

Maknanya, suatu rahasia yang sudah di tutup-tutupi, suatu saat pasti akan terbongkar di masyarakat jika ada yang membukanya.

  • Bebek diwuruki nglangi

⇒ Wong sing wus iso diwarai opo-opo ingkan sampun sagedi.

⇒ Makna paribasan tersebut adalah mengajari orang yang sudah pintar serta ahli dibidang yang sudah diajarkan tersebut.

  • Belo melu seton

⇒ Namung melu-melu ora ngerti punapa-punapa.

Maknanya adalah hanya ikut-ikutan saja.

  • Bebek mungsuh mliwis

⇒ Wong pinter mungsuh wong pinter nanging kari kurang ubet.

⇒ Makna peribahasa Jawa tersebut adalah dua orang yang sama-sama pinter saling bertarung tau bertikai, dan salah satunya lebih berpengalaman daripada yang lain.

Contoh Peribahasa Jawa 16 – 21

  • Beluk ananjak

 Wong sing wuto lan tuli.

⇒ Maknanya adalah orang yang buta dan tuli.

  • Bhatng gajah

⇒ Tilasane wong mulya senajan dadi asor inggih meksa isih rowa tinimbang sancsipun.

⇒ Maknanya adalah meskipun bangkrut orang yang mempunyai kekuasaan atau orang kaya dan bahkan dinilai jelek dimata orang lain, tetap saja dia dinilai lebih dari yang lain.

  • Bhatok bolu isi madu

⇒ Maknanya dalam Bahasa Jawa, wong niku ketingake asor duweni kelakua.

⇒ Makna dalam Bahasa Indonesia, orang yang kelihatannya seperti hina, namun dia memiliki banyak kepandaian.

  • Basa kapracondha

 Angkah njaluk sepura dateng wong shing dipunsalahi supados angsal pangaksama.

⇒ Maknanya adalah meminta maaf dahulu ketika berbuat kesalahan agar adapat meredakan amarah.

  • Basa parudha atau basa candhala

⇒ Angkah nganggo basa awon damel tantang-tantangan.

⇒ Makna peribahasa Jawa tersebut adalah menentang dengan perkataan yang buruk, supaya dapat melemahkan dan menentang mentalnya.

  • Baratan bara

⇒ Tembung kang diagem sesumber tumraping pegaweya abot: Wong ingkang podho ilmune dipun adu kanti temen.

⇒ Maknanya adalah kata-kata yang digunakan sesubar saat menghadapi pekerjaan yang berat, menandakan sikap menghadapi: Dua orang saling bersaing dan sama kuatnya, yang saling menjatuhkan lawan.

Contoh Peribahasa Jawa 22 – 28

  • Bang-bang aalum-alum

Lika-likune ngaurep: Wong sing nduwe kuwasa ngedalaken katetapan.

Makna paribasan tersebut adalah suka duka kehidupan: Orang kuat mempunyai kekuasaan untuk menentukan kepastian (ketetapan).

  • Bapak kasulah, anak kapolah

Anak kajibah perkawisipun bapak ingkang sampun sedo.

⇒ Makna paribasan dalam Bahasa Indonesia merupakan “kelakuan”.

  • Banyu sinaring

Samukawis pedamelan seng cepet linampahan.

Makna peribahasa Jawa tersebut adalah sesuatu yang sangat cepat penyelesaiannya.

  • Banyu pinerang ora bakal pedot

Pasulayaning dulur mesthi cepet pulihe.

Perkelahian antar saudara pasti cepat selesainya.

  • Balung tinumpuk

⇒ Ngrabekake anak loro bebarengan.

⇒ Maknanya adalah menikah kan/melakukan pesta dua pasang atau lebih dalam satu waktu.

  • Bala dewe ilang gapite

Ical panguwaosipun.

Lungkai karena kehilangan sesuatu yang berarti.

  • Bahni maya pramana

Makna tersebut dalam Bahasa Jawa. Dipun dakwa males ndakwa.

Makna peribahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia merupakan, orang yang tertuduh yang mengumumkan ke publik bahwasanya dia akan menggugat.

Contoh Peribahasa Jawa 29 – 34

  • Adol aweh tuku arep (Tetembunganipun tiyang sesadean, mertelaken yen barangipun mboten awis) maksudnya adalah lambang bahwa orang yang berjualan, yang menandakan bahwa barang dagangannya murah.
  • Aji godhong garing (Asor banget, wis ora ana ajine).
  • Akutha saksi (Duweni saksi ingkang mitadosi sanget) maksudnya adalah seseorang terlibat dalam persoalan pengadilan, kemudian dia membujuk saksi untuk memudahkan dalam penanganan.
  • Akeh sandhungane (akeh alangane) maksudnya adalah banyak halangannya.
  • Amer punggung (jupuk darbeking wong ora nembung) maknanya adalah mengambil sesuatu milik orang tanpa meminta izin terlebih dahulu.
  • Aling aling katon (mukiri samukawis prekawis, wusana kejoderan) makna peribahasa Jawa tersebut adalah berusaha menutup-nutupi sesuatu namun pada akhirnya ketahuan juga.

Demikianlah sekilas mengenai contoh peribahasa Jawa yang dapat penulis sampaikan dia arikel ini, semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk Anda. Serta semoga tidak bingung lagi dengan istilah-istilah tersebut di google 🙂

Penulis juga minta maaf jika ada penjelasan yang keliru atau kurang jelas, silahkan comment dibawah ya 🙂 “saling mengingatkan aja hehehe ok”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *